| | | | | | | | |
| | | | | | | |
 

Ketum DPP LDII KH Chriswanto: Toleransi Menghindarkan Diktator Mayoritas Atau Tirani Minoritas


sigapnews.co.id | Ormas
Sabtu, 09/01/2021 - 16:04:02 WIB
SIGAPNEWS.CO.ID | JAKARTA - Bangsa Indonesia memiliki tantangan berat dalam menjaga keutuhan wilayahnya, bukan terbatas pada persoalan pertahanan dan keamanan.

Yang tak kalah penting adalah menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, di tengah keberagaman agama, budaya, dan ras, adalah tantangan bangsa Indonesia.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia ( LDII), KH Chriswanto Santoso berpendapat sejak berdirinya negara Indonesia, para founding father menyadari potensi tersebut.

"Terbukti, sejak zaman penjajahan Belanda, perbedaan tersebut dieksploitasi untuk menaklukkan nusantara. Sementara pada era Indonesia modern, tak bisa dipungkiri masih terdapat prilaku intoleransi antarpenganut agama,” kata Chriswanto.

“Pada era modern terdapat beberapa contoh negara yang bubar karena tak bisa mempertahankan persatuan, kesatuan, dan keberagamannya, seperti Yugoslavia dan Uni Sovyet. Alhamdulillah, bangsa Indonesia memiliki Pancasila yang mampu menyatukan kebhinekaan bangsa Indonesia,” ujar Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso.

Chriswanto mendukung moderasi beragama yang dikampanyekan Kementerian Agama sejak 2019. "Bahkan jauh sebelumnya, sejak berdirinya Kementerian Agama pada 3 Januari 1946, toleransi menjadi perhatian Menteri Agama yang pertama H. Mohammad Rasjidi,” papar Chriswanto.

Toleransi penting dikembangkan agar tak ada mayoritas yang menjadi diktator dan minoritas yang menjadi tiran, pungkasnya.

Demokrasi sebagai pilihan bangsa Indonesia, saat mendirikan negara ini, menurut Chriswanto, agar semua pihak bisa terakomodir. “Demokrasi yang disepakati para pendiri bangsa, agar rakyat dapat merasakan keadilan dan tak ada penindasan satu sama lain,” ujarnya.

Chriswanto mencatat, sejak Pemilu 2014 hingga 2019, bangsa Indonesia terpolarisasi. Bahkan, residu dari pesta demokrasi masih terasa hingga kini. Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan penyelenggara negara memasuki 2021, untuk meningkatkan moderasi beragama.

“Sikap moderat bukan berarti orang tersebut tidak kaffah dalam beragama, prilaku toleran adalah prilaku orang-orang saleh yang terdahulu. Justru karena ketakwaannya bisa memelihara kerukunan dalam bangsa yang majemuk,” paparnya.

Ia lalu mengisahkan Sayidina Umar bin Khattab saat menaklukkan Yerusalem, “Sang khalifah membiarkan para pemeluk Nasrani dan Yahudi tetap beribadah dan hak-haknya dijamin selama membayar pajak, sementara mereka yang menjadi muslim diwajibkan membayar zakat,” ujar Chriswanto. Namun, menurutnya sikap luar biasa Umar bin Khattab adalah saat Uskup Yerusalem Sophorinus, mempersilakannya salat di dalam Gereja Makam Kudus.

“Khalifah Umar menolak, dengan alasan bila ia salat di dalam gereja, dalam 100 tahun umat muslim bisa saja merobohkan gereja tersebut dan mengubahnya menjadi masjid,” imbuhnya. Khalifah Umar kemudian salat Dzuhur beberapa ratus meter dari gereja itu, dan benar saja di atas lokasi itu, kini berdiri Masjid Umar bin Khattab.

Menurut Chriswanto, apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab adalah bentuk toleransi. Ia tak ingin menzalimi umat Kristiani. Baginya, Gereja Makam Kudus juga harus dilestarikan agar umat Kristiani bisa tetap beribadah. Kisah keteladanan Khalifah Umar itu juga dikenang di dunia Barat, melalui buku Perang Suci: Dari Perang Salib hingga Perang Teluk (2003) karya Karen Armstrong.

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Riau Dukung pernyataan DPP LDII

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Riau mendukung pernyataan
yang disampaikan Ketum DPP LDII KH Chriswanto Santoso, bahwa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, di tengah keberagaman agama, budaya, dan ras, adalah tantangan bangsa Indonesia.

Dukungan ini langsung disampaikan langsung Ketua DPW LDII Riau, Prof (Cnd). DR, Imam Suprayogi, MT, didampingi sekretaris DPW, Ir Budi Mulyono, dan ketua Dewan Penasehat Daerah, KH. Nazirwan, bahwa saat ini negara Indonesia dalam kondisi aman, dan terkendali.

" Khusus di Provinsi Riau yang merupakan Bumi Melayu ini, sangat menghargai keberagaman agama, budaya, dan ras. Masyarakat Riau sangat welcome terhadap pendatang," ucap Imam kepada media sigapnews.co.id.

Kedepannya Imam mengharapkan kerukunan umat beragama, budaya, dan suku tetap terjaga demi keutuhan NKRI dan Riau tetap kondusif di negeri Melayu.




Berita Lainnya :
 
  • Ditreskrimum Polda Riau Telusuri Penembakan yang Tewaskan Haji Permata, Proyektil Sedang Dianalisa
  • Mantan Anggota Dewan Dilaporkan ke Polres Pelalawan Terkait Dugaan Penipuan Jual Beli Lahan
  • Pasca Sembuh dari Covid-19, Gubernur Riau Isolasi Mandiri Untuk Tahap Pemulihan
  • Nakes Pekanbaru Banyak Tak di Suntik Vaksin Covid-19 Karna Tensi Tinggi
  • BPK Provinsi Riau Pemeriksaan LKPD Provinsi Riau TA 2020
  • Dampingi Listyo Ke DPR, Idham Azis: Pergantian Kepemimpinan Polri Suatu Keniscayaan
  • Pidato Perpisahan Donald Trump:'Saya Ingin Anda Tahu, Gerakan Kami Baru Dimulai'
  • Dinas Sosial Sumsel Siagakan 1.000 Tagana Untuk Bantu Masyarakat Terkena Bencana
  • Tambah Warga Jambi 49 Orang Terkonfirmasi Positif COVID-19
  •  
     
     
     
     
     
     
    Polri dan Mitra Litas Daerah  
    -Mitra Polri   Provinsi Riau Utama
    -Polda Riau -Polresta Pekanbaru -Polres Inhil -Kota Pekanbaru -Kab. Inhil -Nasional -Pendidikan
      -Polres Dumai -Polres Rohul -Kota Dumai -Kab. Rohul -Politik -Hiburan
      -Polres Kampar -Polres Rohil -Kab. Kampar -Kab. Rohil -Ekonomi -Pertanian
      -Polres Bengkalis -Polres Kuansing -Kab. Bengkalis -Kab. Kuansing -Hukrim -Advertorial
      -Polres Pelalawan -Polres Siak -Kab. Pelalawan -Kab. Siak -Sosial -Lensa Foto
      -Polres Inhu -Polres Meranti -Kab. Inhu -Kab. Meranti -Budaya -Foto
    About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
    Copyright © 2015-2017 PT. MEDIA SIGAP INDONESIA, All Rights Reserved